Khamis, 10 Mac 2011

KISAH BILAL BIN RABBAH : SUARA EMAS

Suatu malam, jauh sepeninggal Rasulullah, Bilal
bin Rabbah, salah seorang sahabat utama, bermimpi dalam
tidurnya. Dalam mimpinya itu, Bilal bertemu dengan Rasulullah.
"Bilal, sudah lama kita berpisah, aku rindu sekali kepadamu,"
demikian Rasulullah berkata dalam mimpi Bilal.
"Ya, Rasulullah, aku pun sudah teramat rindu ingin bertemu dan
mencium harum aroma tubuhmu," kata Bilal masih dalam
mimpin-ya. Setelah itu, mimpi tersebut berakhir begitu saja. Dan
Bilal bangun dari tidurnya dengan hati yang gulana. Ia
dirundung rindu.
Keesokan harinya, ia menceritakan mimpi tersebut pada salah
seorang sahabat lainnya. Seperti udara, kisah mimpi Bilal
segera memenuhi ruangan kosong di hampir seluruh penjuru
kota Madinah. Tak menunggu senja, hampir seluruh penduduk
Madinah tahu, semalam Bilal bermimpi ketemu dengan nabi
junjungannya.
Hari itu, Madinah benar-benar terbungkus rasa haru. Kenangan
semasa Rasulullah masih bersama mereka kembali hadir,
seakan baru kemarin saja Rasulullah tiada. Satu persatu dari
mereka sibuk sendiri dengan kenangannya bersama manusia
mulia itu. Dan Bilal sama seperti mereka, diharu biru oleh
kenangan dengan nabi tercinta.
Menjelang senja, penduduk Madinah seolah bersepakat
meminta Bilal mengumandangkan adzan Maghrib jika tiba
waktunya. Padahal Bilal sudah cukup lama tidak menjadi
muadzin sejak Rasulullah tiada. Seolah, penduduk Madinah ingin
menggenapkan kenangannya hari itu dengan mendengar adzan
yang dikumandangkan Bilal.
Akhirnya, setelah diminta dengan sedikit memaksa, Bilal pun
menerima dan bersedia menjadi muadzin kali itu. Senjapun
datang mengantar malam, dan Bilal mengumandangkan adzan.
Tatkala, suara Bilal terdengar, seketika, Madinah seolah
tercekat oleh berjuta memori. Tak terasa hampir semua
penduduk Madinah meneteskan air mata. "Marhaban ya
Rasulullah," bisik salah seorang dari mereka.
Sebenarnya, ada sebuah kisah yang membuat Bilal menolak
untuk mengumandangkan adzan setelah Rasulullah wafat.
Waktu itu, beber-apa saat setelah malaikat maut menjemput
kekasih Allah, Muhammad, Bilal mengumandangkan adzan.
Jenazah Rasulullah, belum dimakam-kan. Satu persatu kalimat
adzan dikumandangkan sampai pada kalimat, "Asyhadu anna
Muhammadarrasulullah." Tangis penduduk Madinah yang
mengantar jenazah Rasulullah pecah. Seperti suara guntur yang
hendak membelah langit Madinah.

Kemudian setelah, Rasulullah telah dimakamkan, Abu Bakar
meminta Bilal untuk adzan. "Adzanlah wahai Bilal," perintah Abu
Bakar.
Dan Bilal menjawab perintah itu, "Jika engkau dulu
membe-baskan demi kepentinganmu, maka aku akan
mengumandangkan adzan. Tapi jika demi Allah kau dulu
membebaskan aku, maka biarkan aku menentukan pilihanku."
"Hanya demi Allah aku membebaskanmu Bilal," kata Abu Bakar.
"Maka biarkan aku memilih pilihanku," pinta Bilal.
"Sungguh, aku tak ingin adzan untuk seorang pun sepeninggal
Rasulullah," lanjut Bilal.
"Kalau demikian, terserah apa maumu," jawab Abu Bakar.
***
Di atas, adalah sepenggal kisah tentang Bilal bin Rabah, salah
seorang sahabat dekat Rasulullah. Seperti yang kita tahu, Bilal
adalah seorang keturunan Afrika, Habasyah tepatnya. Kini
Habasyah biasa kita sebut dengan Ethiopia.
Seperti penampilan orang Afrika pada umumnya, hitam, tinggi
dan besar, begitulah Bilal. Pada mulanya, ia adalah budak
seorang bangsawan Makkah, Umayyah bin Khalaf. Meski Bilal
adalah lelaki dengan kulit hitam pekat, namun hatinya, insya
Allah bak kapas yang tak bernoda. Itulah sebabnya, ia sangat
mudah menerima hidayah saat Rasulullah berdakwah.
Meski ia sangat mudah menerima hidayah, ternyata ia menjadi
salah seorang dari sekian banyak sahabat Rasulullah yang
berjuang mempertahankan hidayahnya. Antara hidup dan mati,
begitu kira-kira gambaran perjuangan Bilal bin Rabab.
Keislamannya, suatu hari diketahui oleh sang majikan. Sebagai
ganjarannya, Bilal di siksa dengan berbagai cara. Sampai
datang padanya Abu Bakar yang membebaskannya dengan
sejumlah uang tebusan.
Bisa dikata, di antara para sahabat, Bilal bin Rabah termasuk
orang yang pilih tanding dalam mempertahankan agamanya.
Zurr bin Hubaisy,
menampak-kan keislamannya adalah Rasulullah. Kemudian
setelah beliau, ada Abu Bakar, Ammar bin Yasir dan
keluarganya, Shuhaib, Bilal dan Miqdad.
suatu ketika berkata, orang yang pertama kali
Selain Allah tentunya, Rasulullah dilindungi oleh paman beliau.
Dan Abu Bakar dilindungi pula oleh sukunya. Dalam posisi sosial,
orang paling lemah saat itu adalah Bilal. Ia seorang perantauan,
budak belian pula, tak ada yang membela. Bilal, hidup sebatang
kara. Tapi itu tidak membuatnya merasa lemah atau tak
berdaya. Bilal telah mengangkat Allah sebagai penolong dan
walin-ya, itu lebih cukup dari segalanya.

Derita yang ditanggung Bilal bukan alang kepalang. Umayyah
bin Khalaf, sang majikan, tak berhenti hanya dengan menyiksa
Bilal saja. Setelah puas hatinya menyiksa Bilal, Umayyah pun
menyerahkan Bilal pada pemuda-pemuda kafir berandalan.
Diarak berkeliling kota dengan berbagai siksaan sepanjang
jalan. Tapi dengan tegarnya, Bilal mengucap, "Ahad, ahad,"
puluhan kali dari bibirnya yang mengeluarkan darah.
Bilal bin Rabah, meski dalam strata sosial posisinya sangat
lemah, tapi tidak di mata Allah. Ada satu riwayat yang
membukti-kan betapa Allah memberikan kedudukan yang mulai
di sisi-Nya.
Suatu hari Rasulullah memanggil Bilal untuk menghadap.
Rasulullah ingin mengetahui langsung, amal kebajikan apa yang
menja-dikan Bilal mendahului berjalan masuk surga ketimbang
Rasulullah.
"Wahai Bilal, aku mendengar gemerisik langkahmu di depanku di
dalam surga. Setiap malam aku mendengar gemerisikmu."
Dengan wajah tersipu tapi tak bisa menyembunyikan raut
bahagianya, Bilal menjawab pertanyaan Rasulullah. "Ya
Rasulullah, setiap kali aku berhadats, aku langsung berwudhu
dan shalat sunnah dua rakaat."
"Ya, dengan itu kamu mendahului aku," kata Rasulullah
membenarkan. Subhanallah, demikian tinggi derajat Bilal bin
Rabah di sisi Allah.
Meski demikian, hal itu tak menjadikan Bilal tinggi hati dan
merasa lebih suci ketimbang yang lain. Dalam lubuk hati
kecilnya, Bilal masih menganggap, bahwa ia adalah budak
belian dari Habasya, Ethiopia. Tak kurang dan tak lebih.
Bilal bin Rabah, terakhir melaksanakan tugasnya sebagai
muadzin saat Umar bin Khattab menjabat sebagai khalifah. Saat
itu, Bilal sudah bermukim di Syiria dan Umar mengunjunginya.
Saat itu, waktu shalat telah tiba dan Umar meminta Bilal untuk
mengumandangkan adzan sebagai tanda panggilan shalat. Bilal
pun naik ke atas menara dan bergemalah suaranya.
Semua sahabat Rasulullah, yang ada di sana menangis tak
terkecuali. Dan di antara mereka, tangis yang paling kencang
dan keras adalah tangis Umar bin Khattab. Dan itu, menjadi
adzan terakhir yang dikumandangan Bilal, hatinya tak kuasa
menahan kenangan manis bersama manusia tercinta, nabi akhir
zaman.

WANITA PERTAMA SYAHID "SUMAYAH"



Sumayyah binti Khabath adalah hamba Abu Huzaifah bin Mughirah. Tuannya mengahwinkan Sumayyah dengan Yasir bin Amir, perantau dari Yaman ke Mekah. Apabila Allah mengurniakan mereka seorang anak yang diberi nama Amar, Abu Huzaifah pun membebaskan Sumayyah daripada menjadi hambanya.
Apabila Islam mula tersebar, keluarga Yasir antara golongan pertama memeluk agama suci itu. Sumayyah tidak gentar dengan amaran musyrikin Quraisy yang menyeksa dan membunuh sesiapa yang memeluk Islam.
Apabila bangsawan Quraisy mengetahui Sumayyah sudah memeluk Islam, mereka menyerbu rumahnya. Keluarga Amar ditangkap dan dibawa ke khalayak untuk diseksa.
“Mereka sudah menyahut ajaran Muhammad walaupun ditegah oleh pihak atasan Quraisy. Kamu akan menerima balasan kerana ingkar perintah kami,” kata Abu Jahal kepada pengikutnya sambil menarik keluarga Yasir yang terikat ke kawasan padang pasir di luar kota Mekah.
“Mereka tidak serik dengan hukuman kita walaupun pengikut agama yang dibawa Muhammad telah diseksa oleh kita,” kata seorang bangsawan Quraisy yang berjalan di sebelah Abu Jahal.
“Kali ini saya tidak akan bebaskan mereka bertiga sehingga mereka mengaku berhala-berhala kita sebagai tuhan mereka,” tegas Abu Jahal yang mengacah tombaknya ke arah keluarga Yasir yang diseret secara kasar oleh pengikut Abu Jahal.
Mereka berhenti di kawasan lapang yang dipenuhi bongkah batu besar. Yasir, Amar dan Sumayyah ditanggalkan pakaian mereka lalu diikat pada bongkah batu yang panas mendidih dipanah matahari padang pasir.
Kaki dan tangan mereka diikat ketat sehingga tidak dapat bergerak seinci pun. Abu Jahal, pembesar Quraisy dan pengikut setianya ketawa melihat penderitaan ketiga beranak itu.
“Kamu akan diseksa dengan lebih teruk seandainya kamu tidak mahu meninggalkan agama yang dibawa oleh Muhammad. Kamu akan dibebaskan jika kamu sanggup mengaku berhala-berhala di kota Mekah ini sebagai tuhan kamu,” Abu Jahal mula mengambil tali sebat bagi menakutkan Yasir, Sumayyah dan Amar.
“Kami tidak akan mengaku berhala-berhala itu sebagai tuhan kami. Hanya Allah Tuhan kami,” balas Yasir dengan tenang.
“Saya beriman dengan Allah sahaja,” kata Sumayyah pula.
“Berani kamu melawan kata-kata saya,” api kemarahan Abu Jahal semakin membara mendengarkan kata-kata Sumayyah itu tadi.
“Ini balasan kepada kamu kerana enggan menerima berhala-berhala sebagai tuhan kamu,” Abu Jahal dan pengikutnya mula menyebat tubuh Yasir, Sumayyah dan Amar dengan kejam. Hinggakan darah mengalir daripada tubuh mereka yang terikat pada bongkah batu yang panas dipanah matahari tengah hari.
Berita penyeksaan keluarga Yasir sampai ke pengetahuan Nabi SAW sehingga baginda dan Abu Bakar keluar bagi menyelamatkan keluarga tersebut daripada seksaan kejam Abu Jahal dan pengikutnya. Namun, mereka dihalang oleh orang-orang Quraisy yang menyaksikan seksaan terhadap keluarga Yasir.
Hati Abu Jahal semakin sakit melihat reaksi Yasir, Sumayyah dan Amar yang masih enggan menerima berhala sebagai tuhan mereka. Dia mengarahkan pengikutnya memakaikan baju besi kepada ketiga-tiga ahli keluarga tersebut agar bahang matahari semakin menyeksa mereka.
“Kita lihat berapa lama kamu boleh menahan seksa di tengah-tengah kepanasan matahari ini,” sindir Abu Jahal sambil memandang wajah Yasir dan Sumayyah dengan bengis.
“Tiada tuhan melainkan Allah,” kata Yasir, Sumayyah dan Amar merintih dalam kesakitan memakai baju panas.
“Letakkan batu besar ke atas badan Yasir,” arah Abu Jahal lagi kerana geram mendengar kata-kata Yasir sekeluarga.
Seksaan demi seksaan ke atas Yasir menyebabkan fizikalnya menjadi lemah kerana usianya yang sudah lanjut. Akhirnya, Yasir menghembuskan nafasnya yang terakhir dengan menyebut nama Allah tanpa menerima agama berhala Abu Jahal.
Walaupun hati Sumayyah hancur melihat suaminya mati akibat seksaan Abu Jahal yang kejam, dia gembira kepada suaminya mati dalam menegakkan agama Allah.
“Kamu pun mahu mati seperti suami kamu. Lebih baik kamu terima tawaran saya sebelum ajal kamu tiba!” Abu Jahal mahu menunjukkan yang seksaannya mampu mengubah pendirian pengikut Nabi Muhammad kepada ajaran berhala.
“Jangan kamu berharap saya akan menurut kata-kata kamu itu. Tiada tuhan melainkan Allah,”. Hati Sumayyah keras seperti batu teguh pada keimanannya pada Allah.
“Kamu sudah semakin degil dan melawan kata-kata saya!” Abu Jahal mengambil tombak dari tangan kanannya lalu dicucuk ke dalam alat sulit Sumayyah.
“Allahu Akbar”. Begitulah kata terakhir Sumayyah sebelum menghembuskan nafasnya akibat tikaman tombak Abu Jahal itu.
Kematian Sumayyah dengan nama Allah di mulutnya demi mempertahankan keimanan pada Allah adalah peristiwa penting dalam sejarah pengembangan agama Islam. Sumayyah adalah wanita pertama mati syahid dalam sejarah Islam.

BINATANG YANG BERNAMA HURAISY

                    Dikisahkan dalam sebuah kitab bahawa apabila tiba hari kiamat nanti maka akan keluar seekur binatang dari neraka Jahannam yang digelar Huraisy, yang mana panjangnya ialah jarak antara langit dan bumi dan lebarnya pula dari timur hingga ke barat. Apabila ia keluar maka malaikat Jibril a.s berkata, "Wahai Huraisy, kamu hendak ke mana dan kamu hendak mencari siapa?" Lalu berkata Huraisy : "Aku mencari lima jenis orang ."
1. Orang yang tidak mengerjakan solat.
2. Orang yang tidak mahu mengeluarkan zakat.
3. Orang yang mendurhakai kedua orang tuanya.
4. Orang yang suka minum arak.
5. Orang yang sangat suka bercakap-cakap dalam masjid hal dunia.

KISAH SEEKOR ULAT

  Dalam sebuah kitab Imam Al-Ghazali menceritakan pada suatu ketika tatkala Nabi Daud a.s. sedang duduk dalam suraunya sambil membaca kitab az-Zabur, dengan tiba-tiba dia terpandang seekor ulat merah pada debu. Lalu Nabi Daud a.s. berkata pada dirinya, "Apa yang dikehendaki Allah s.w.t. dengan ulat ini?" Sebaik sahaja Nabi Daud selesai berkata begitu, maka Allah s.w.t. pun mengizinkan ulat merah itu berkata-kata. Lalu ulat merah itu pun mula berkata-kata kepada Nabi Daud a.s. "Wahai Nabi Allah! Allah s.w.t. telah mengilhamkan kepadaku untuk membaca 'Subhanallahu walhamdulillahi wala ilaha illallahu wallahu akbar' setiap hari sebanyak 1000 kali dan pada malamnya Allah s.w.t. mengilhamkan kepadaku supaya membaca 'Allahumma solli ala Muhammadin annabiyyil ummiyyi wa ala alihi wa sohbihi wa sallim' setiap malam sebanyak 1000 kali.

                        Setelah ulat merah itu berkata demikian, maka dia pun bertanya kepada Nabi Daud a.s. "Apakah yang dapat kamu katakan kepadaku agar aku dapat faedah darimu?" Akhirnya Nabi Daud menyedari akan kesilapannya kerana memandang remeh akan ulat tersebut, dan dia sangat takut kepada Allah s.w.t. maka Nabi Daud a.s. pun bertaubat dan menyerah diri kepada Allah s.w.t. Begitulah sikap para Nabi a.s.apabila mereka menyedari kesilapan yang telah dilakukan maka dengan segera mereka akan bertaubat dan menyerah diri kepada Allah s.w.t.. Kisah-kisah yang berlaku pada zaman para nabi bukanlah untuk kita ingat sebagai bahan sejarah, tetapi hendaklah kita jadikan sebagai teladan supaya kita tidak memandang rendah kepada apa sahaja makhluk Allah s.w.t. yang berada di bumi yang sama-sama kita tumpangi ini.

BILIK BILIK DI SYURGA

     Rasulullah s.a.w. pernah bersabda bahawa di dalam syurga itu terbahagi dalam kamar-kamar. Dindingnya tembus pandang dengan hiasan di dalamnya yang sangat menyenangkan. Di dalamnya pula terdapat pemandangan yang tidak pernah dilihat di dunia dan terdapat satu hiburan yang tidak pernah dirasakan manusia di dunia.  "Untuk siapa kamar-kamar itu wahai Rasulullah s.a.w.?" tanya para sahabat. "Untuk orang yang mengucapkan dan menyemarakkan salam, untuk mereka yang memberikan makan kepada yang memerlukan, dan untuk mereka yang membiasakan puasa serta solat di waktu malam saat manusia lelap dalam mimpinya." "Siapa yang bertemu temannya lalu memberi salam, dengan begitu ia bererti telah menyemarakkan salam. Mereka yang memberi makan kepada ahli dan keluarganya sampai berkecukupan, dengan begitu bererti termasuk orang-orang yang membiasakan selalu berpuasa. Mereka yang solat Isya' dan Subuh secara berjemaah, dengan begitu bererti termasuk orang yang solat malam di saat orang-orang sedang tidur lelap." Begitu Rasulullah s.a.w.  menjelaskan sabdanya kepada sahabatnya.
Kelebihan umat Nabi Muhammad s.a.w. menurut pandangan Nabi Adam a.s.
                        Disebutkan bahawa Nabi Adam A.S telah berkata, "Sesungguhnya Allah s.w.t. telah memberikan kepada umat Muhammad s.a.w. empat kemuliaan yang tidak diberikan kepadaku:
· Taubatku hanya diterima di kota Mekah, sementara taubat umat Nabi Muhammad s.a.w .diterima di sebarang tempat oleh Allah s.w.t.
· Pada mulanya aku berpakaian, tetapi apabila aku berbuat derhaka kepada Allah s.w.t. maka Allah s.w.t. telah menjadikan aku telanjang. Umat Muhammad s.a.w. membuat derhaka dengan telanjang, tetapi Allah s.w.t. memberi mereka pakaian.
· Ketika aku telah berderhaka kepada Allah s.w.t., maka Allah s.w.t. telah memisahkan aku dengan isteriku. Tetapi umat Muhammad s.a.w. berbuat derhaka, Allah s.w.t. tidak memisahkan isteri mereka.
· Memang benar aku telah derhaka kepada Allah s.w.t. dalam syurga dan aku dikeluarkan dari syurga, tetapi umat Muhammad s.a.w. durhaka kepada Allah s.w.t. akan dimasukkan ke dalam syurga apabila mereka bertaubat kepada Allah s.w.t.

HIKMAT BERBAKTI KEPADA IBU BAPA

Selain seorang nabi, Sulaiman a.s. juga seorang raja terkenal. Atas izin Allah s.w.t. ia berhasil menundukkan Ratu Balqis. Dia dikenal sebagai manusia boleh berdialog dengan segala binatang. Dikisahkan, Nabi Sulaiman sedang berkelana antara langit dan bumi hingga tiba di satu samudera yang bergelombang besar. Untuk mencegah gelombang, ia cukup memerintahkan angin agar tenang, dan tenang pula samudera itu. Kemudian Nabi Sulaiman memerintahkan jin Ifrit menyelam ke samudera itu sampai ke dasarnya. Di sana jin Ifrit melihat sebuah kubah dari permata putih yang tanpa lubang, kubah itu diangkatnya ke atas samudera dan ditunjukkannya kepada Nabi Sulaiman.

                        Melihat kubah tanpa lubang penuh permata dari dasar laut itu Nabi Sulaiman menjadi terlalu hairan, "Kubah apakah gerangan ini?" fikirnya. Dengan minta pertolongan Allah s.w.t., Nabi Sulaiman membuka tutup kubah. Betapa terkejutnya dia begitu melihat seorang pemuda tinggal di dalamnya. "Sipakah engkau ini? Kelompok jin atau manusia?" tanya Nabi Sulaiman kehairanan. "Aku adalah manusia", jawab pemuda itu perlahan. "Bagaimana engkau boleh memperolehi karomah semacam ini?" tanya Nabi Sulaiman lagi. Kemudian pemuda itu menceritakan riwayatnya sampai kemudian memperolehi karomah dari Allah s.w.t. boleh tinggal di dalam kubah dan berada di dasar lautan.

                        Diceritakan, ibunya dulu sudah tua dan tidak berdaya sehingga dialah yang memapah dan menggendongnya ke mana jua dia pergi. Si anak selalu berbakti kepada orang tuanya, dan ibunya selalu mendoakan anaknya. Salah satu doanya itu, ibunya selalu mendoakan anaknya diberi rezeki dan perasaan puas diri. Semoga anaknya ditempatkan di suatu tempat yang tidak di dunia dan tidak pula di langit. "Setelah ibuku wafat aku berkeliling di atas pantai. Dalam perjalanan aku melihat sebuah kibah terbuat dari permata. Aku mendekatinya dan terbukalah pintu kubah itu sehingga aku masuk ke dalamnya" Tutur pemuda itu kepada Nabi Sulaiman.

                        Nabi Sulaiman yang dikenali boleh berjalan di antara bumi dan langit itu menjadi kagum terhadap pemuda itu.
"Bagaimana engkau boleh hidup di dalam kubah di dasar lautan itu?" tanya Nabi Sulaiman ingin mengetahui lebih lanjut.
"Di dalam kubah itu sendiri, aku tidak tahu di mana berada. Di langitkah atau di udara, tetapi Allah s.w.t. tetap memberi rezeki kepadaku ketika aku tinggal di dalam kubah." "Bagaimana Allah s.w.t. memberi makan kepadamu?" "Jika aku merasa lapar, Allah s.w.t. menciptakan pohon di dalam kubah, dan buahnya yang aku makan. Jika aku merasa haus maka keluarlah air yang teramat bersih, lebih putih daripada susu dan lebih manis daripada madu."

                        "Bagaimana engkau mengetahui perbedaan siang dan malam?" tanya Nabi Sulaiman a.s yang merasa semakin hairan. "Bila telah terbit fajar, maka kubah itu menjadi putih, dari situ aku mengetahui kalau hari itu sudah siang. Bila matahari terbenam kubah akan menjadi gelap dan aku mengetahui hari sudah malam." Tuturnya. Selesai menceritakan kisahnya, pemuda itu lalu berdoa kepada Allah s.w.t., maka pintu kubah itu tertutup kembali, dan pemuda itu tetap tinggal di dalamnya. Itulah keromah bagi seorang pemuda yang berbakti kepada kedua orang tuanya.

SYAITAN LAKNATULLAH MENGODA IMAM

   SHEIKH ABDUL QADIR JAILANI adalah seorang alim ulama dan ahli sufi yang cukup dikenali keutamaan dan kemuliaan ilmunya di kalangan umar Islam. Kerana sikapnya yang warak atau dekat dengan Allah s.w.t., banyak pengikutnya yang berlebih-lebihan memuliakannya. Diceritakan suatu hari Sheikh Abdul Qadir Jailani berjalan merantau seorang diri. Dalam mengharungi padang pasir yang panas terik itu ia merasa kehausan. Tiba-tiba ia melihat sebuah bejana dari perak melayang di udara lalu perlahan-lahan turun kepadanya diselimuti awan di atasnya.

                        Saat itu diceritakan terdengar suara ghaib di angkasa : "Hai Abdul Qadir, minumlah isi bejana ini. Hari ini kami telah menghalalkan kamu makan dan minum semua yang selama ini aku haramkan danan telah kugugurkan semua kewajipan untukmu." Bunyi suara ghaib itu. Sebagai orang yang arif, Abdul Qadir cukup tahu bahawa suara ghaib yang menyerupai wahyu itu cuma syaitan laknatullah yang menggoda keteguhan imannya. Maka marahlah ia dan berkata : "Hai mal'un beredarlah engkau dari sini. Sesungguhnya aku tiada lebih mulia dibandingkan dengan Rasulullah s.a.w. di sisi Allah Taala. Kepada Rasulullah s.a.w. sahaja tidak mungkin berlaku ketentuan semacam itu. Barang yang diharamkan Allah s.w.t. selamanya tetap haram, dan kewajipan hamba kepadanya tidak pernah digugurkan termasuk pada diriku." Ujarnya tegas.